Saturday, September 12, 2026
NewsStartup

Ledakan QRIS di Indonesia Menyoroti Perangkat Lunak Salon Kasera dan Pencatatan Pembayaran

Pembayaran digital di Indonesia terus berkembang, dan pengembang perangkat lunak lokal menyoroti sektor yang selama ini kurang mendapat perhatian: layanan personal seperti salon dan barbershop. Kasera membangun sistem manajemen salon yang menghubungkan pembayaran QRIS, catatan layanan dan perhitungan komisi dalam satu alur kerja, di saat data Bank Indonesia menunjukkan penggunaan QRIS melonjak tajam.

Poin Penting

  • Bank Indonesia mencatat 15.51 billion transaksi QRIS pada 2025, naik 148.54% dari tahun sebelumnya, dengan nilai Rp1,420.66 trillion.
  • Pada semester pertama 2026, transaksi QRIS mencapai 12.55 billion, dengan 44.86 million merchant dan sekitar 66 million pengguna per Juni 2026.
  • Bank Indonesia menargetkan 17 billion transaksi dan 47 million merchant pada akhir 2026, dan sekitar 96.68% merchant tersebut adalah usaha mikro, kecil dan menengah.
  • Kasera menghubungkan setiap transaksi QRIS dengan layanan dan stylist, sehingga komisi dapat dihitung dari catatan yang sama alih-alih direkonsiliasi secara manual.

Angka QRIS terus naik

Bank Indonesia (BI) mencatat 15.51 billion transaksi QRIS sepanjang 2025, naik 148.54% dibanding tahun sebelumnya, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,420.66 trillion. Tren berlanjut pada semester pertama 2026, ketika jumlah transaksi QRIS mencapai 12.55 billion. Per Juni 2026, BI mencatat 44.86 million merchant QRIS dan sekitar 66 million pengguna.

Bank sentral menargetkan 17 billion transaksi dan 47 million merchant pada akhir 2026. Sekitar 96.68% merchant tersebut adalah usaha mikro, kecil dan menengah, atau UMKM.

Mengapa salon menjadi kasus yang berbeda

Diskusi tentang adopsi pembayaran digital sebagian besar berfokus pada bisnis ritel dan makanan dan minuman. Layanan personal seperti salon, barbershop, klinik kecantikan dan spa memiliki karakteristik transaksi yang berbeda, dan data BI belum memisahkan layanan personal ke dalam kategori tersendiri.

Di ritel, satu transaksi biasanya terdiri dari sejumlah barang yang dibeli pelanggan. Di salon, satu transaksi bisa melibatkan beberapa layanan yang dikerjakan stylist berbeda, produk tambahan yang dibeli pelanggan, dan tip untuk stylist. Nilainya juga bisa lebih besar daripada pembelian ritel biasa, dan layanannya sendiri bisa berlangsung dari puluhan menit hingga beberapa jam, dengan pembayaran umumnya dilakukan setelah semua pekerjaan selesai.

Beban rekonsiliasi

Semua itu membuat pembayaran menjadi titik kritis dalam operasional salon, terutama pada jam sibuk. Ketika pembayaran digital tidak terhubung dengan catatan layanan, pemilik masih harus merekonsiliasi secara manual: mencocokkan transaksi masuk dengan daftar layanan hari itu, memisahkan pendapatan usaha dari tip stylist, lalu menghitung komisi berdasarkan layanan yang dikerjakan masing-masing stylist.

Tugas itu menjadi lebih rumit ketika salon menerima pembayaran melalui beberapa metode, dan rekonsiliasi sering dilakukan setelah usaha tutup, yang menambah beban administrasi bagi pemilik dan manajer.

Bagaimana Kasera masuk di dalamnya

Kasera mengembangkan sistem manajemen salon yang menghubungkan pembayaran, catatan layanan dan perhitungan komisi dalam satu alur kerja. Lewat fitur POS salon, transaksi QRIS dapat dikaitkan dengan layanan dan stylist yang mengerjakannya. Data itu kemudian menjadi dasar penghitungan komisi sesuai aturan yang ditetapkan pemilik.

Poin yang lebih luas adalah pembayaran digital tidak berhenti pada menerima uang tanpa tunai. Pembayaran digital bisa menjadi bagian dari cara sebuah usaha dijalankan sehari-hari. Bagi usaha layanan seperti salon, satu indikator sederhana adalah berapa banyak waktu yang masih dibutuhkan setiap hari untuk merekonsiliasi pembayaran dengan layanan dan komisi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Seberapa besar penggunaan QRIS di Indonesia?

Bank Indonesia mencatat 15.51 billion transaksi QRIS pada 2025, 148.54% lebih banyak dari tahun sebelumnya, dengan nilai Rp1,420.66 trillion, dan 12.55 billion transaksi pada semester pertama 2026.

Mengapa pencatatan pembayaran lebih sulit di salon daripada di toko?

Satu transaksi salon bisa mencakup beberapa layanan oleh stylist berbeda, produk tambahan dan tip, dan pembayaran biasanya ditagih setelah layanan selesai, sehingga mencocokkan pembayaran dengan layanan butuh kerja lebih banyak.

Apa yang dilakukan Kasera?

Ia mengembangkan sistem manajemen salon yang mengaitkan pembayaran QRIS dengan layanan dan stylist, serta menghitung komisi dari catatan yang sama.

Sumber: Katadata

Gambar sampul dibuat oleh AI untuk tujuan ilustrasi saja.